Ahli Budaya UI Paparkan Hasil Penelitian di Tiga Destinasi “Bali Baru”

Kementerian Pariwisata terus menggenjot jumlah wisawatan dengan memaksimalkan potensi wisata di 10 destinasi “Bali Baru”.

Kesepuluh destinasi wisata prioritas tersebut adalah Borobudur di Jawa Tengah, Danau Toba di Sumatera Utara, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Mandalika di Lombok, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Morotai di Maluku Utara, dan Tanjung Lesung di Banten.

Untuk menghasilkan kebijakan strategis, Kementerian Pariwisata bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB), Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya (FIB) bekerja sama menyelenggarakan Focus Grup Discussion (FGD) “Potensi Atraksi Wisata Multikultural di Destinasi Prioritas Danau Toba, Tanjung Kelayang, dan Wakatobi” pada Senin (23/4/2018) di Hotel Mercure Sabang dan Rabu (9/5/2018) di Hotel Margo Depok.

Dalam FGD ini dibahas tiga destinasi wisata prioritas yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Acara dibuka oleh Dekan FIB Dr. Adrianus L.G. Waworuntu, M.A., dan Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Dra. Esthy Reko Astuty, M.Si.

Para ahli budaya dari FIB UI memberikan masukan berupa hasil kajian strategis terhadap bidang multikultural terkait daerah destinasi wisata prioritas. Kajian strategis tersebut menjadi rekomendasi dalam penentuan kebijakan terkait destinasi wisata prioritas yang dirancang oleh Kementerian Pariwisata.

Sebagai pengarah jalannya FGD, hadir tiga pembicara utama.  Pertama, Dr. Irmawati Marwoto dan tim dari FIB UI yang menyampaikan tentang “Pengembangan Desa Wisata Sijuk sebagai Destinasi Penunjang Kawasan Strategis Pariwisata di Tanjung Kelayang”. Pemaparan dilanjutkan oleh Larasati Sedyaningsih sebagai Person in Charge (PIC) Tanjung Kelayang dari Pokja Percepatan Destinasi Wisata Prioritas Kementerian Pariwisata yang memaparkan soal “Potensi Atraksi Multikultural serta Kebijakan dan Strategi Pemasaran di Tanjung Kelayang”.

Kedua, Dr. Isman Pratama Nasution dari FIB UI menyampaikan paparan tentang Desa Pagar Batu, Balige sebagai percontohan desa budaya batak untuk atraksi wisata Danau Toba. Pemaparan dari pihak Kemenpar dibawakan  oleh Ari Prasetyo sebagai Dirut Badan Pelaksana Otorita Danau Toba yang menyampaikan “Potensi Atraksi Multikultural serta Kebijakan dan Strategi Pemasaran di Kawasan Danau Toba”.

Ketiga, diskusi mengangkat tema “Potensi Budaya untuk Memperkuat Destinasi Wisata Prioritas di Wakatobi Sulawesi Tenggara” yang disampaikan oleh Dr. Prutendia MPSS dari FIB UI, dan “Potensi Atraksi Multikultural serta Kebijakan dan Strategi Pemasaran di Wakatobi” oleh Gema Pratama, PIC Destinasi Prioritas Wakatobi.

Dari dua kali pelaksanaan FGD tersebut, dihasilkan beberapa rekomendasi, di antaranya :

Destinasi Tanjung Kelayang :

  • Untuk destinasi Tanjung Kelayang, menambahkan atraksi budaya dan atraksi buatan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Belitung. Mengembangkan atraksi berbasis budaya di Pulau Belitung.
  • Membangun atraksi buatan berbasis budaya seperti pusat kehidupan lama Belitung di Desa Sijuk.

Destinasi Danau Toba :

  • Melakukan survei dan riset lanjutan terhadap wilayah Desa Pagar Batu untuk menjadi spot Destinasi Wisata Balige, karena di dekat TB Silalahi Center diketahui ada desa potensi wisata.
  • Mendorong tumbuh kembangnya atraksi budaya lokal dengan merevitalisasi rumah batak, atraksi budaya batak, ukiran (gorga), tarian, busana, kuliner, dan legenda.
  • Menyiapkan destinasi wisata Balige baru dan mengembangkan destinasi wisata balige yang telah ada seperti Puncak Bukit Pahoda, Bukit Tarabunga, Pasar Tradisional Onan Balerong, Pantai Bulbul, Makam Sisingamangaraja XII, dan lain-lain.

Destinasi Wakatobi :

  • Melakukan kurasi terhadap atraksi multikultural di empat pulau di Wakatobi, terutama yang mengandung unsur sejarah yang kuat.
  • Membangun sarana dan prasarana kuliner lokal dalam rangka mengoptimalkan kuliner lokal dalam berbagai kegiatan, seperti Pulau Wangi-Wangi.
  • Membuat tempat pementasan sebagai pusat atraksi budaya
  • Menghidupkan kembali Museum Bahari.

 

About the author

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) didirikan pada tahun 1986. Pada awalnya lembaga ini merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (LPUI) yang pembentukannya terkait dengan kewajiban universitas memenuhi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 5 tahun 1980, tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Setelah terbit SK Rektor pada November 2005 mengenai likuidasi LPUI, pengelolaan pusat-pusat penelitian yang semula berada di bawahnya diserahkan pada fakultas terkait. dengan demikian, sejak 2006 PPKB resmi dikelola oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ( FIB UI) dengan Dr. Anggadewi Moesono sebagai kepala hingga tahun 2008 dilanjutkan oleh Dr. Magdalia Alfian dari tahun 2008 - 2011, dilanjutkan oleh Prof. Dr. Titik Pudjiastuti dari tahun 2012 - 2014, dilanjutkan oleh Dr. Kushartanti dari 2014 - sekarang.